Beranda Nasional Workshop di Depok Buka Peluang UMKM Garap Produk Turunan Sawit

Workshop di Depok Buka Peluang UMKM Garap Produk Turunan Sawit

0
29

 

Peluang usaha berbasis turunan kelapa sawit semakin terbuka bagi pelaku usaha kecil, mikro, dan koperasi (UMKM). Hal itu mengemuka dalam Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 bertajuk Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK di Depok, Kamis (19/2/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan Majalah Hortus Archipelago dan didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Forum tersebut menghadirkan pemerintah daerah, peneliti, dan pegiat industri sawit untuk berbagi perspektif sekaligus membuka ruang kolaborasi.

Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Kota Depok, Widyati Riyandani, melihat peluang besar pengembangan industri kreatif berbasis sawit di kota tersebut.

“Saya baru sebulan menjabat. Kami ingin mendorong promosi dan penguatan ekonomi kreatif 2025-2029 bersama Depok Maju. Sawit ini bukan hanya soal makanan, tapi juga kosmetik, es krim, hingga produk fesyen dan kriya,” ujar dia.

Ia memaparkan, dari total industri di Depok, 20% merupakan industri kecil, 56% menengah, dan sekitar 22% berskala besar. Industri pangan olahan mendominasi 63%, disusul kimia 9%, logam 8%, serta fesyen dan kriya 13%. Saat ini, industri terkait sawit di Depok masih terbatas pada sektor pengemasan.

Data dinas menunjukkan sekitar 3.000 UMKM telah terdata dan dibina, dengan potensi mencapai 6.000 unit usaha aktif. Namun, dari sekitar 120.000 yang pernah tercatat, sebagian belum terverifikasi kembali.
Menurut Widyati, tantangan ke depan adalah membangun industri berkelanjutan. Generasi muda kini semakin peduli pada isu lingkungan dan transparansi rantai pasok. Sertifikasi seperti ISPO dan RSPO menjadi pertimbangan pasar.

“Produk bersertifikat ramah lingkungan punya peluang besar. Kami juga ingin UMKM Depok bisa masuk pasar ekspor,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah industri kosmetik di Depok sekitar 10 pelaku usaha berpotensi memanfaatkan bahan baku sawit. “Hampir semua makanan kita memakai minyak. Sawit juga bisa menggantikan lemak hewani. Ini peluang besar,” ujarnya.

Widyati berharap workshop ini sejalan dengan program “UMKM Naik Kelas” di Kota Depok.
“Kami ingin pelaku usaha tidak hanya bertahan, tetapi berkembang. Kalau kualitas dan produksinya meningkat, omzet pun akan mengikuti,” katanya.

Rantai Nilai yang Luas

Kepala Subdivisi Riset dan Advokasi Kebijakan IPOSS, Dimas Haryo Pamungkas, menilai UMKM memiliki peran penting dalam ekosistem sawit, dari hulu hingga hilir.

“UMKM menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional. Integrasi ke sektor strategis seperti sawit akan memperkuat daya ungkit ekonomi,” katanya.

Ia menjelaskan, peluang usaha muncul sejak tahap pembibitan, mulai dari penyediaan polybag, alat semai, hingga perlengkapan panen seperti egrek, sabit, dan alat pelindung diri. Di hilir, terdapat ratusan produk turunan, mulai dari minyak inti sawit, pakan ternak, pupuk kompos dari tandan kosong, hingga kerajinan lidi sawit yang telah menembus pasar ekspor.

“Dari hulu ke hilir, kami mencatat sedikitnya 224 jenis produk turunan sawit. Potensinya masih sangat luas,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan inovasi pemanfaatan nira sawit saat peremajaan tanaman, yang bisa menjadi peluang baru bagi UMKM sebagai pemanen dan pengolah.

Peneliti dari Surfactant And Bioenergy Research Center (SBRC) IPB, Neli Muna, memaparkan berbagai hasil riset turunan sawit yang aplikatif bagi UMKM. SBRC merupakan pusat riset di bawah Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Kami mengembangkan surfaktan untuk es krim, biodiesel, sabun, sampo, hingga hand sanitizer. Banyak produk bisa dibuat skala rumahan dengan bahan sederhana,” katanya.

Ia menjelaskan, sabun berbahan minyak sawit dapat diproduksi dengan campuran basa seperti NaOH dan didiamkan hingga proses aging selesai agar aman digunakan. Sabun transparan bahkan memiliki pasar khusus di sektor perhotelan dan suvenir.

Selain itu, SBRC juga mengembangkan minyak makan merah yang kaya karoten alami. Kandungan tersebut dinilai berpotensi membantu pemenuhan vitamin A, meski tantangan terletak pada penerimaan rasa di masyarakat.

Untuk menjawab hal itu, tim peneliti menciptakan berbagai produk turunan seperti minuman emulsi red olein drink, mayones minyak merah, sambal, hingga chili oil. “Tujuannya agar masyarakat, terutama anak-anak, lebih mudah menerima manfaatnya,” ujar Neli.

Sebagai tindak lanjut, workshop ini akan dilanjutkan dengan kunjungan ke Surfactant & Bioenergy Research Center pada Jumat (20/2/2026) untuk melihat secara langsung proses riset dan pengembangan produk turunan sawit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini