Beranda Korporasi BPDP – Ditjenbun dan TRIC Perkuat SDM Pekebun Pasangkayu, 59 Peserta Ikuti...

BPDP – Ditjenbun dan TRIC Perkuat SDM Pekebun Pasangkayu, 59 Peserta Ikuti Pelatihan Implementasi ISPO di Sulawesi Barat

0
68

MAMUJU – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia perkebunan melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP).

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Angkatan 1 dan 2 yang diikuti oleh 59 pekebun asal Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 31 Agustus hingga 5 September 2026 di Hotel Grand Maleo Mamuju ini merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan yang didukung oleh BPDP bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), bekerja sama dengan PT Trifos Internasional Sertifikasi (TRIC).

Pelatihan diselenggarakan oleh PT Trifos Internasional Sertifikasi sebagai upaya memperkuat pemahaman, pengetahuan, dan kesiapan pekebun dalam menerapkan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Melalui program ini, para pekebun mendapatkan pembekalan mengenai prinsip dan kriteria ISPO, legalitas usaha perkebunan, praktik budidaya yang baik, perlindungan lingkungan, serta pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

BPDP Dorong Pekebun Siap Hadapi Tantangan Keberlanjutan

Penguatan kapasitas SDM menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan pekebun menghadapi perkembangan industri kelapa sawit yang semakin menuntut penerapan prinsip keberlanjutan.

Melalui dukungan BPDP, program pengembangan SDM perkebunan diharapkan mampu membantu pekebun meningkatkan kompetensi dan memperkuat kesiapan dalam menerapkan standar ISPO di kebun masing-masing.

Pelatihan tidak hanya berfokus pada pembelajaran di dalam kelas. Para peserta juga memperoleh kesempatan untuk melihat langsung praktik pengelolaan perkebunan kelapa sawit melalui kunjungan lapangan di PT Surya Raya Lestari II dan PT Bhadra Sukses.

Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai penerapan praktik perkebunan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan dan standar ISPO.

Melalui pendekatan teori dan praktik, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep ISPO, tetapi juga mampu menerapkannya secara bertahap dalam pengelolaan usaha perkebunan mereka.

Pekebun adalah Ujung Tombak Industri Sawit

Direktur Utama PT Trifos Internasional Sertifikasi, Rendy Agung Firmansyah, mengatakan pekebun kelapa sawit memiliki posisi strategis dalam keberlangsungan industri kelapa sawit Indonesia.

Menurutnya, pekebun merupakan salah satu ujung tombak yang memastikan industri kelapa sawit dan berbagai produk turunannya terus bergerak.

“Pekebun memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan industri kelapa sawit. Karena itu, peningkatan kapasitas dan pemahaman terhadap praktik perkebunan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan industri ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, sertifikasi ISPO memberikan manfaat penting bagi pekebun. Tidak hanya berkaitan dengan kepastian legalitas usaha, tetapi juga mendorong pengelolaan perkebunan yang memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun industri kelapa sawit yang semakin maju.

“Mari kita bersama-sama berdiskusi dan memperkuat komitmen agar industri kelapa sawit di Sulawesi Barat semakin jaya, memiliki daya saing tinggi, dan semakin diakui dunia,” tambahnya.

ISPO Dorong Daya Saing dan Kesejahteraan Pekebun

Sekretaris Daerah Kabupaten Pasangkayu, Moh. Zain Machmoed, S.Sos., M.Si., mengatakan kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki peran penting bagi perekonomian masyarakat dan daerah.

Menurutnya, pelaksanaan pelatihan Implementasi ISPO menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan pengelolaan perkebunan kelapa sawit dapat berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Program pengembangan kapasitas yang didukung BPDP dan Ditjenbun tersebut diharapkan dapat membantu pekebun meningkatkan pemahaman mengenai praktik perkebunan yang baik dan berkelanjutan.

“Penerapan standar ISPO menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pengelolaan perkebunan sekaligus mendukung perkembangan industri kelapa sawit yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah,” demikian semangat yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Persiapan Menuju ISPO 2029

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, S.E., menekankan pentingnya peningkatan pemahaman dan kesiapan pekebun dalam menerapkan sertifikasi ISPO.

Menurutnya, penguatan SDM menjadi salah satu fondasi penting dalam mempersiapkan pekebun menghadapi target penerapan ISPO di masa mendatang.

Ia menyampaikan bahwa pada tahun 2029 diharapkan seluruh pekebun telah melakukan sertifikasi ISPO. Karena itu, peningkatan kompetensi melalui program pelatihan menjadi langkah strategis yang perlu terus dilakukan.

Industri kelapa sawit sendiri memiliki kontribusi yang signifikan terhadap sektor perkebunan di Sulawesi Barat. Komoditas kelapa sawit menyumbang sekitar 23–25 persen dari komoditas utama hasil perkebunan di Sulawesi Barat.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun kapasitas pekebun agar mampu mengelola perkebunan secara produktif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing.

Kolaborasi untuk Sawit Berkelanjutan

Pelatihan Implementasi ISPO Angkatan 1 dan 2 menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi dalam memperkuat kapasitas pekebun Indonesia.

Dukungan BPDP melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan memberikan kesempatan kepada para pekebun untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan dalam menerapkan prinsip-prinsip perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.

Kolaborasi BPDP, Ditjenbun, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan Lembaga Pelatihan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pengembangan SDM perkebunan yang lebih kuat.

PT Trifos Internasional Sertifikasi sebagai penyelenggara kegiatan turut mendukung proses peningkatan kompetensi tersebut melalui pembelajaran yang menggabungkan materi di kelas dengan pengalaman langsung di lapangan.

Melalui penguatan kapasitas SDM, penerapan ISPO diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi pekebun sekaligus mendukung terciptanya industri kelapa sawit Indonesia yang produktif, berkelanjutan, berdaya saing, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

BPDP terus mendorong pengembangan SDM perkebunan sebagai investasi jangka panjang untuk menghadirkan pekebun Indonesia yang semakin kompeten dan siap menghadapi masa depan industri kelapa sawit berkelanjutan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini