Beranda Investasi Saat Tim Ekspedisi Patriot Bersama Gubernur Tinjau Kawasan Perkebunan Tebu

Saat Tim Ekspedisi Patriot Bersama Gubernur Tinjau Kawasan Perkebunan Tebu

0
25

Indonesiafinance.id,Merauke- Pagi itu, hamparan hijau tebu di Kampung Sermayam, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, tampak berkilau disinari mentari. Barisan batang tebu yang menjulang kontras dengan tanah merah yang baru dibuka di kejauhan.

Suara mesin pemanen meraung, memecah keheningan, ketika Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, tiba bersama rombongan Tim Ekspedisi Patriot, Jumat (12/9/2025).

Tim ekspedisi ini bukan rombongan biasa. Mereka terdiri dari perwakilan perguruan tinggi ternama, dosen, dan mahasiswa. Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Universitas Musamus Merauke mengirimkan wakilnya. Kehadiran kalangan kampus diharapkan memberi pandangan ilmiah dalam mendukung pengembangan kawasan perkebunan yang ambisius ini.

Saat tiba, Gubernur Apolo ditemani karyawan kebun dan beberapa pejabat daerah mencoba memanen tebu dengan mesin tagrm sugarcane harvester. Suara mesin bergemuruh saat batang-batang tebu roboh dalam satu tarikan. Usai panen, ia sempat berdiskusi singkat dengan pengelola perkebunan tentang efektivitas alat tersebut.

Dari lokasi itu, rombongan bergerak menggunakan mobil ke kawasan yang sudah siap ditanami. Di sana, Apolo kembali turun tangan menanam tebu dengan mesin John Deere bersama seorang pekerja. Ia tampak bersemangat menunjukkan bahwa mekanisasi bisa berjalan berdampingan dengan pemberdayaan tenaga kerja lokal.

Tak berhenti di situ, rombongan menaiki mobil untuk memantau area lain yang tengah dibuka. Suara alat berat menggaung, ekskavator dan bulldozer bekerja menyiapkan lahan baru. Gubernur sesekali berhenti, memperhatikan cara kerja operator, lalu berdiskusi dengan mereka. Di gudang pembibitan, ia bersama rombongan juga meninjau berbagai varietas tebu yang sedang dikembangkan.

“Bibit yang sesuai dengan kondisi tanah lokal akan menjadi kunci keberhasilan,” ujarnya setelah berdialog dengan pengelola.

Kunjungan lapangan itu memberi gambaran betapa besar skala proyek yang digarap. Kebun tebu di Merauke merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk pengembangan perkebunan tebu dua juta hektar.

Target besar itu diarahkan untuk mendukung swasembada gula sekaligus mengembangkan bioetanol sebagai energi terbarukan. Proyek dikelola oleh PT Global Papua Abadi bersama sejumlah perusahaan mitra. Hingga kini, perusahaan sudah membuka lahan seluas 18 ribu hektar, sebuah capaian awal dari target ambisius jutaan hektar.

Bagi pemerintah daerah, proyek ini bukan sekadar industri gula. Kehadirannya diyakini akan memicu pertumbuhan ekonomi Papua Selatan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal. Namun tantangan besar tetap ada: infrastruktur jalan dan irigasi, keterampilan tenaga kerja, hingga isu lingkungan.

Apolo menegaskan, manfaat proyek harus dirasakan langsung masyarakat. “Kami ingin pembangunan tidak berhenti di angka produksi. Yang lebih penting adalah rakyat Papua Selatan merasakan manfaat ekonomi dan sosialnya,” katanya.

Bagi kalangan akademisi yang ikut dalam ekspedisi, perkebunan Merauke adalah laboratorium hidup. Dosen dan mahasiswa melakukan kajian lapangan mulai dari produktivitas varietas, efisiensi mesin panen, dampak ekologis, hingga pola kemitraan dengan masyarakat lokal. “Riset harus berjalan beriringan dengan implementasi. Tanpa itu, kita bisa mengulang kesalahan masa lalu,” ujar seorang dosen IPB.

Potensi tebu Merauke dinilai strategis. Selain luas lahan dan iklim tropis yang mendukung, komoditas ini bisa menjadi basis produksi bioetanol. Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan 23 persen pada 2025, dan bioetanol dari tebu diharapkan menjadi salah satu tumpuan. Namun jika tata kelola tidak rapi, proyek bisa tersendat di tengah jalan.

Seorang ekonom pertanian dari Universitas Musamus menekankan perlunya integrasi. “Infrastruktur, kelembagaan, dan keterlibatan masyarakat harus jalan bersama. Kalau tidak, proyek besar ini hanya jadi angka di atas kertas,” ujarnya.

Menjelang sore, rombongan kembali berkumpul di tepi kebun. Angin menerpa batang-batang tebu, seolah menutup kunjungan dengan simbol harapan. Dari hamparan hijau itu, pemerintah menaruh asa besar: menjadikan Merauke bukan hanya lumbung pangan, tetapi juga pusat energi baru Indonesia.

Bagi Apolo Safanpo, ekspedisi hari itu bukan sekadar kunjungan kerja. Ia melihat langsung bagaimana proyek strategis nasional perlahan menjelma di tanah paling timur Indonesia. Dari mesin panen hingga bibit unggul, dari lahan yang dibuka hingga riset kampus, semuanya menjadi bagian dari langkah panjang menuju swasembada gula dan kemandirian energi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini