Indonesiafinance.id, Merauke-Hamparan tebu yang baru ditanam di kawasan Sarmayam Indah, Distrik Tanah Miring, Merauke, bergoyang diterpa angin sore.
Di sela barisan tanaman muda itu, sejumlah pekerja tampak sibuk mengatur jalannya mesin tanam modern. Dari kejauhan, rombongan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara datang meninjau, Minggu (21/9/2025). Bagi sang menteri, kunjungan ini bukan sekadar melihat perkembangan proyek, melainkan menegaskan arah baru pengelolaan perkebunan skala besar di Papua Selatan: keterlibatan aktif masyarakat transmigran dan lokal dalam skema profit sharing.
“Merauke memiliki potensi luar biasa untuk budidaya tebu. Tapi masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus terlibat langsung, bekerja sama dengan investor, dan menikmati hasil melalui sistem bagi keuntungan,” ujar Iftitah.
Kunjungan itu berlangsung di perkebunan tebu PT Global Papua Abadi, salah satu pengelola lahan dalam proyek strategis nasional (PSN) tebu. Perusahaan ini mendapat mandat membuka ribuan hektare lahan di Merauke untuk mendukung swasembada gula sekaligus pengembangan bioetanol. Target besar telah dipatok: 350 ribu hektare lahan dengan kapasitas produksi hingga 3 juta ton gula per tahun.
Dalam lawatannya, Menteri Iftitah tak datang sendiri. Sejumlah peneliti dari Brasil dan Australia ikut serta. Mereka menilai Merauke punya kombinasi unggul: lahan luas, iklim tropis yang mendukung, dan varietas tebu lokal dengan kadar gula (rendemen) tinggi. “Ini kesempatan emas bagi Indonesia untuk menjadi produsen gula dan bioetanol yang efisien,” kata salah seorang peneliti asal Queensland, Australia, yang hadir mendampingi.
Kolaborasi riset menjadi salah satu fokus utama kunjungan. Kementerian Transmigrasi ingin menjalin kerja sama erat dengan perguruan tinggi dan lembaga riset internasional untuk meningkatkan produktivitas. “Kita belajar dari Brasil, negara yang sukses mengembangkan bioetanol berbasis tebu. Tapi kita juga punya keunggulan sendiri: varietas endemik Merauke yang rendemennya tinggi,” ucap Iftitah.
Namun, lebih dari sekadar riset dan investasi, Iftitah menekankan kesejahteraan transmigran. Ia mendorong agar lahan yang dikelola masyarakat digabung di bawah Koperasi Merah Putih. Dengan begitu, mereka bisa bermitra secara kolektif dengan investor, memperoleh akses teknologi, dan memastikan hasil yang adil. “Skema koperasi ini akan melindungi transmigran. Mereka tidak lagi bernegosiasi sendiri-sendiri, tapi punya posisi tawar yang kuat,” katanya.
Salah satu transmigran asal Jawa yang ditemui di lokasi menyambut baik gagasan tersebut. “Kalau koperasi jalan, kami bisa lebih mudah mengatur hasil. Selama ini masih banyak yang bingung bagaimana menjual tebu dengan harga bagus,” ujarnya.
Di tengah optimisme besar, Menteri Iftitah juga mengingatkan soal lingkungan. Ia menegaskan kawasan hutan lindung tidak boleh disentuh untuk perluasan perkebunan. “Ekspansi harus cerdas. Jangan sampai ambisi produksi justru merusak ekosistem. Kita harus membangun dengan tetap menjaga keberlanjutan,” katanya tegas.
Pengembangan tebu di Merauke memang menyimpan dua wajah. Di satu sisi, peluang ekonomi besar terbentang: gula untuk menekan impor, bioetanol untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Di sisi lain, ada kekhawatiran akan dampak sosial-lingkungan, mulai dari akses masyarakat adat hingga keberlanjutan tata ruang.
Karena itu, keterlibatan akademisi dan peneliti asing menjadi penting. Mereka tidak hanya melihat potensi produksi, tapi juga memetakan dampak jangka panjang. Beberapa peneliti Australia, misalnya, menyoroti kebutuhan sistem irigasi berkelanjutan untuk mengantisipasi musim kering. Sementara itu, pengalaman Brasil di bidang bioetanol memberi contoh tentang bagaimana membangun ekosistem industri yang menghubungkan petani, pabrik, dan pasar energi.
Bagi pemerintah, keberhasilan proyek ini akan menjadi bukti nyata bahwa Papua Selatan bisa menjadi motor ketahanan pangan dan energi. Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya Merauke sebagai lumbung baru Indonesia. Dengan dukungan kementerian teknis, proyek ini diharapkan tidak hanya menambah produksi, tetapi juga menciptakan kesejahteraan nyata bagi masyarakat lokal.
Menjelang senja, Menteri Iftitah masih sempat berbincang dengan para pekerja di kebun. Ia menanyakan bagaimana kondisi mereka, mulai dari akses pendidikan hingga fasilitas kesehatan. “Pembangunan tidak bisa hanya berhenti di mesin dan hektare lahan. Kita harus memastikan manusia yang ada di dalamnya juga maju,” ujarnya.
Kunjungan itu menandai langkah awal dari kolaborasi lebih luas. Riset, investasi, koperasi transmigran, hingga perhatian pada lingkungan, semua dirangkai dalam satu visi: menjadikan Merauke sebagai pusat industri gula dan bioetanol yang adil dan berkelanjutan. Dari tanah yang jauh di timur Indonesia, harapan baru bagi kemandirian pangan dan energi itu sedang ditanam, batang demi batang tebu.











