Beranda Nasional Hilirisasi Kelapa Bisa Hasilkan Rp 1.200 Triliun

Hilirisasi Kelapa Bisa Hasilkan Rp 1.200 Triliun

0
26
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman usai mengikuti rapat terbatas (Ratas) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 9 Oktober 2025.

JAKARTA, Indonesiafinance.id – Pemerintah akan menghentikan ekspor kelapa gelondongan ke luar negeri. Ke depan, semua kelapa akan diolah di dalam negeri melalui hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah.

Hal ini disampaikan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman usai mengikuti rapat terbatas (Ratas) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 9 Oktober 2025.

Amran menjelaskan, total volume kelapa yang selama ini diekspor dalam bentuk gelondongan mencapai 2,8 juta ton.

“Rencana kita hilirisasi, kelapa ini tidak dijual gelondongan ke luar negeri,” ujarnya.

Mentan Amran menekankan, kelapa yang diolah menjadi produk turunan seperti santan (coconut milk) berpotensi meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan.

“Jadi ini VCO (Virgin Coconut Oil) harganya bisa naik 100 kali lipat. Kalau 100 kali lipat kita hitungan rata-rata saja itu bisa menghasilkan 2.400 triliun. Katakanlah separuh saja, kali 50 itu menghasilkan 1.200 triliun,” ujarnya.

Ia menambahkan, potensi ekonomi ini baru dari satu komoditas, kelapa. Komoditas lain seperti gambir juga mempunyai potensi yang sangat besar.

“Kita mensuplai dunia 80 persen gambir. Bisa jadi tinta untuk pemilu, bisa untuk sampo, dan seterusnya,” ujar Amran.

Mentan Amran menegaskan, mimpi pemerintah adalah seluruh bahan baku yang diekspor, termasuk CPO (Crude Palm Oil), diolah di dalam negeri. 

Khusus lahan sawit yang dikuasai pemerintah akan diarahkan untuk pengolahan dari tandan buah segar (TBS) menjadi produk turunan bernilai tambah seperti FAME (Fatty Acid Methyl Ester) atau biofuel, minyak goreng, hingga margarin.

“Dari TBS tandam buah segar menjadi FAME atau biofuel, kemudian menjadi minyak goreng, kemudian menjadi margarin atau mentega. Edd value-nya harus ada di Indonesia,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini