Beranda Bursa Utang Jumbo Kereta Cepat Whoosh, Rosan Masih Cari Jalan Keluar dengan China

Utang Jumbo Kereta Cepat Whoosh, Rosan Masih Cari Jalan Keluar dengan China

0
36

 

Proses restrukturisasi utang jumbo proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh belum rampung. CEO PT Danantara, Rosan Roeslani, menyebut pembicaraan dengan pihak China masih berlangsung demi mencari struktur pembiayaan yang lebih sehat.

“Iya, sedang berjalan dengan pihak China, baik dengan pemerintah China. Masih dalam proses,” ujar Rosan seusai menghadiri Investor Daily Summit 2025 di JCC, Jakarta, Rabu (8/10).

Rosan menegaskan restrukturisasi yang diinginkan bukan sekadar penyesuaian tenor atau cicilan, melainkan reformasi menyeluruh agar ke depan proyek tidak lagi menghadapi risiko keuangan serupa.

“Jadi begitu kita restrukturisasi, ke depannya tidak akan terjadi lagi hal-hal seperti ini, misalnya potensi default dan lain-lain,” katanya.

Meski proses restrukturisasi berjalan, Rosan memastikan hal itu tidak mengganggu rencana pengembangan proyek kereta cepat di masa depan. Namun, ia menekankan bahwa struktur pendanaan proyek baru, termasuk wacana jalur Jakarta–Surabaya, harus benar-benar berkelanjutan.

“Intinya, kalaupun proyek Jakarta–Surabaya dilaksanakan, strukturnya harus benar-benar sustainable,” ujarnya.

Saat ini operator KCJB, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), merupakan perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium perusahaan perkeretaapian China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Komposisi pemegang saham PSBI terdiri dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebesar 58,53 persen, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk 33,36 persen, PT Perkebunan Nusantara I 1,03 persen, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk 7,08 persen. Sementara itu, Beijing Yawan HSR Co. Ltd dimiliki oleh CREC 42,88 persen, Sinohydro 30 persen, CRRC 12 persen, CRSC 10,12 persen, dan CRIC 5 persen.

Pendanaan proyek Whoosh sebagian besar ditopang pinjaman dari China Development Bank (CDB) yang menanggung sekitar 75 persen kebutuhan pembiayaan. Nilai pinjaman tersebut diperkirakan mencapai Rp 6,98 triliun.

Dengan struktur utang yang besar, restrukturisasi dinilai menjadi langkah penting tidak hanya untuk menjaga keberlangsungan operasional Whoosh, tetapi juga menentukan arah proyek kereta cepat di Indonesia ke depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini