Beranda Bursa Optimisme Pasar Menyambut Purbaya Effect

Optimisme Pasar Menyambut Purbaya Effect

0
29

Indonesiafinance.id, Jakarta-Awal Oktober selalu menjadi periode yang dinanti para pelaku pasar. Di tengah ketidakpastian global, investor di Bursa Efek Indonesia justru disuguhi aroma optimisme.

Sorotan kali ini tertuju pada sektor perbankan, yang digadang-gadang menjadi motor penggerak indeks. Di balik keyakinan itu, muncul istilah baru yang ramai dibicarakan: Purbaya Effect.

BRI-Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam riset terbarunya menempatkan saham-saham bank besar sebagai pilihan utama bulan ini. “Sejumlah katalis untuk sektor perbankan terbentang sejak Agustus hingga September. Efeknya akan terlihat mulai Oktober,” tulis tim riset BRIDS, Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi, Senin (6/10).

Katalis yang dimaksud datang beruntun. Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan 50 basis poin, yang disertai penurunan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar 4,8 persen. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) turut menurunkan suku bunga penjaminan simpanan, membuat biaya dana perbankan kian longgar.

Di atas semua itu, kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambah gairah pasar. Ia mengucurkan dana Rp200 triliun kepada bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kebijakan ini disebut sebagai Purbaya Effect: sinyal kuat bahwa pemerintah siap memperkuat likuiditas perbankan sekaligus menopang ekspansi kredit.

Sektor perbankan memang sempat terbebani kenaikan biaya operasional. Namun analis menilai beban itu hanya bersifat satu kali. Dengan likuiditas yang kian sehat dan valuasi menarik, peluang keuntungan bagi investor tetap besar. BRIDS menilai sektor ini masih menawarkan imbal hasil menarik, dengan price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali dan dividend yield di rentang 1,5 hingga 9,7 persen.

Bank Central Asia (BBCA) menjadi pilihan utama BRIDS. Rekomendasinya buy dengan target harga Rp11.900 per saham. Pandangan serupa muncul dalam konsensus Bloomberg untuk PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Dari 38 analis, 30 merekomendasikan buy, tujuh memilih hold, dan hanya satu yang menyarankan sell. Target harga rata-rata BBRI untuk 12 bulan ke depan ada di Rp4.652 per saham.

Analis BNI Sekuritas, Yulinda Hartanto, termasuk yang bullish terhadap BBRI. Ia mempertahankan rekomendasi buy dengan target Rp4.700 per saham. “Fundamental BRI solid, fokus ke segmen UMKM, dan likuiditas makin kuat dengan dukungan pemerintah,” ujarnya.

Optimisme juga mengiringi saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Dari 36 analis, 30 di antaranya menyarankan buy. Target harga setahun ke depan berada di kisaran Rp5.545 per saham. Untuk PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), sebanyak 32 analis memberi rekomendasi buy dengan target harga Rp5.030 per saham.

Sementara itu, BBCA tetap menjadi primadona. Meski valuasinya lebih mahal dibanding bank lain, pasar menganggapnya sebagai pilihan defensif dengan fundamental kuat. “Investor menempatkan BBCA sebagai saham aman di tengah ketidakpastian,” tulis BRIDS.

Kombinasi penurunan bunga acuan, kebijakan likuiditas, serta suntikan dana pemerintah membuat sektor perbankan kembali menjadi jangkar stabilitas pasar. Para analis menilai Oktober akan menjadi momen penting untuk melihat apakah Purbaya Effect benar-benar terwujud, tidak hanya dalam laporan keuangan bank, tapi juga dalam kontribusi ke pertumbuhan ekonomi riil.

“Sudah saatnya Purbaya Effect terlihat nyata di perbankan. Likuiditas yang mengalir harus bisa diterjemahkan ke kredit produktif dan mendukung pemulihan ekonomi,” ujar seorang analis pasar modal yang enggan disebut namanya.

Optimisme pasar kini menanti bukti. Jika bank-bank besar mampu menyalurkan tambahan likuiditas ke sektor riil, Purbaya Effect bukan hanya jargon, melainkan momentum baru bagi industri perbankan Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini