Beranda Industri BPDP dan Jurnalis Promosikan Produk Inovasi UKM Sawit

BPDP dan Jurnalis Promosikan Produk Inovasi UKM Sawit

0
30

Indonesiafinance.id, Taangerang-Di sebuah ruang pertemuan puluhan jurnalis duduk menyimak. Di hadapan mereka, para akademisi, pelaku industri, dan pejabat pemerintah berbicara tentang satu hal yang selama ini luput dari perhatian publik: sawit bukan cuma urusan korporasi raksasa, tapi juga ruang hidup bagi jutaan pelaku usaha kecil menengah di desa dan kota.

Workshop bertajuk “Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045” yang digelar Majalah Sawit Indonesia itu menjadi ajang berbagi gagasan. Didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), dan Asian Agri, kegiatan ini mempertemukan dua dunia yang jarang bertemu di satu meja: media dan UKM sawit.

Dari podium, Qayum Amri, Ketua Pelaksana acara, memulai dengan pernyataan yang mematahkan stereotip. “Selama ini sawit dikenal hanya sebatas minyak goreng,” ujarnya. “Padahal ada sekitar 32 produk turunan UKM sawit — dari skincare, lilin aromaterapi, batik, cokelat, hingga mie sawit merah.”

BPDP, kata Qayum, telah merangkum keberagaman itu dalam katalog berisi 100 produk sawit dari 22 UKM di seluruh Indonesia: Riau, Aceh, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Sulawesi Selatan. Katalog itu bukan sekadar dokumentasi, tapi peta jalan masa depan UKM sawit.

“Tangerang Selatan kami pilih bukan kebetulan,” lanjut Qayum. “Kota ini punya sektor hotel, restoran, dan MICE yang kuat — pasar ideal untuk produk sawit premium. Sawit bukan milik segelintir perusahaan, melainkan milik semua. Apalagi 40 persen lahan sawit dimiliki petani kecil.”

Acara dibuka oleh Metty Kusmayantie, Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Menengah Kementerian Koperasi dan UKM. Ia menegaskan pentingnya peran media dalam mengubah persepsi publik terhadap komoditas ini. “Sektor sawit menyerap 67 persen tenaga kerja nasional,” ujarnya. “Kolaborasi antara pemerintah, industri, asosiasi, media, dan lembaga pembiayaan merupakan langkah nyata membangun ekonomi dari bawah.”

Metty menyebut, sinergi ini adalah bagian dari ekosistem kewirausahaan baru — yang tak hanya berbicara soal produksi, tapi juga narasi. “Media punya kekuatan besar. Dengan cerita yang tepat, sawit bisa dipahami sebagai sumber kehidupan, bukan sumber masalah,” katanya.

Di sisi lain, Mochamad Husni, Media Relations GAPKI, menekankan pentingnya peran jurnalis dalam memperluas perspektif publik. “Sawit hadir di hampir setiap aspek hidup manusia — dari sabun pagi hingga tinta printer malam,” ujarnya. “Banyak produk UKM sawit tak dikenal hanya karena tak pernah disorot.”

Diskusi makin hangat ketika Puspo Edi Giriwono, Direktur SEAFAST Center IPB, mengambil alih mikrofon. Dengan gaya akademisi yang renyah, ia menggambarkan sawit sebagai “tanaman masa depan” yang mampu menjawab kebutuhan pangan dan energi dunia.

“Kalau kita kuasai teknologinya, sawit bisa jadi bahan bakar roket,” katanya, disambut tawa hadirin. “Secara kimia, sawit sama-sama hidrokarbon seperti minyak bumi, tapi tumbuh di tanah kita sendiri.”

Puspo lalu memaparkan data: untuk menghasilkan 225 juta ton minyak nabati global, sawit hanya butuh seperempat lahan dibanding kedelai atau bunga matahari. “Produktivitasnya luar biasa,” katanya. “Indonesia bisa memenuhi kebutuhan dunia hanya dengan satu pulau besar.”

Namun yang paling menarik adalah riset tentang minyak sawit merah — versi alami yang belum diputihkan dan kaya beta-karoten serta vitamin E. “Di Nigeria, kasus kekurangan vitamin A rendah karena masyarakat mengonsumsi minyak sawit merah,” ujarnya. “Riset IPB menunjukkan minyak ini membantu mencegah stunting dan meningkatkan fungsi kognitif anak.”

Baginya, sawit bukan sekadar komoditas, tapi peluang untuk menyehatkan bangsa. “Kalau kita ingin Indonesia Emas 2045, jangan abaikan potensi ini,” katanya menutup.

Sementara itu, Bachtiar Priyambodo, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Tangerang Selatan, membawa perspektif lokal. “Pertumbuhan ekonomi Tangsel mencapai 5,02 persen, dengan angka kemiskinan terendah di Banten, 2,36 persen. Itu berkat UMKM,” katanya.

Ia menyebut, banyak pelaku usaha di daerahnya sudah mengembangkan produk berbasis sawit — dari sabun herbal, pasta gigi, hingga cokelat. “Kami dorong mereka untuk naik kelas, bukan sekadar bertahan. Pemerintah daerah aktif membantu legalitas, sertifikasi, hingga inkubasi bisnis agar produk sawit lokal bisa masuk rantai industri nasional.”

Baginya, sawit adalah peluang besar bagi daerah urban seperti Tangsel. “Sawit bukan lagi bahan mentah, tapi gaya hidup,” ujarnya. “Produk skincare sawit misalnya, sudah mulai diminati kalangan muda.”

Sahat Sinaga, Ketua Umum DMSI, menegaskan bahwa masa depan sawit nasional tidak hanya ditentukan oleh korporasi besar. “Titik kemajuan sawit ada di UKM dan koperasi,” katanya. “Kita perlu bentuk koperasi modern berbasis teknologi, bukan model lama yang hanya menunggu harga pasar.”

Ia mengingatkan, selama ini petani kecil masih menjadi objek dalam rantai industri sawit. “Kita harus ubah itu. Petani harus jadi subjek — ikut mengolah, ikut memutuskan, ikut menikmati nilai tambah,” tegasnya.

Workshop sehari itu memang berakhir menjelang senja, tapi gagasan yang lahir darinya berdenyut panjang. Kolaborasi antara jurnalis, akademisi, dan pelaku usaha menjadi jembatan penting bagi transformasi sawit nasional — dari bahan baku ekspor menjadi sumber inovasi lokal.

Jika dulu sawit hanya dikenal dari pabrik-pabrik raksasa di pedalaman Kalimantan dan Sumatera, kini aromanya hadir di ruang pamer UMKM, di laboratorium riset, bahkan di meja makan keluarga muda perkotaan.

Sawit, pada akhirnya, bukan sekadar minyak. Ia adalah cerita tentang kemandirian, teknologi, dan keberanian untuk mengubah persepsi. Dan seperti yang disimpulkan seorang peserta di akhir acara, “Mungkin sawit memang tak sempurna. Tapi kalau dikelola dengan hati, ia bisa jadi cermin dari masa depan Indonesia — kuat, produktif, dan berdikari.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini