Indonesiafinance.id, Bogor- Tak banyak yang tahu, di balik sebotol hand sanitizer atau sabun cuci tangan yang harum dan lembut di kulit, tersimpan jejak pohon sawit dari kebun-kebun Nusantara.
Di tangan para inovator PT Ratu Bio Indonesia, kelapa sawit tidak lagi berhenti sebagai bahan baku minyak goreng, tetapi menjelma menjadi fondasi bagi produk-produk sanitasi dan kecantikan yang ramah lingkungan.
Kisah inovatif itu mengemuka ketika rombongan Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit mengunjungi pabrik PT Ratu Bio Indonesia di Desa Wanaherang, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, pada Jumat, 24 Oktober 2025.
Kunjungan yang menjadi bagian dari kegiatan hari kedua workshop yang digelar Majalah Sawit Indonesia itu menghadirkan pandangan baru tentang potensi hilirisasi sawit di sektor kesehatan dan kosmetik.
Rombongan yang dipimpin oleh Qayuum Amri, Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia sekaligus Ketua Panitia, disambut hangat oleh Shandyka Yuda Pratama, General Manager PT Ratu Bio Indonesia.
Turut hadir Helmi Muhansyah, Kepala Divisi Usaha Kecil, Menengah, dan Koperasi (UKMK) Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Setelah sesi perkenalan, para jurnalis diajak berkeliling menyaksikan langsung proses produksi yang berlangsung di pabrik seluas 7.000 meter persegi itu.
PT Ratu Bio Indonesia berdiri dengan visi sederhana namun kuat: menghadirkan produk higienitas berkualitas dari bahan alami sawit. Melalui dua merek andalan, BIOQUEEN dan Hilgiene, perusahaan ini memproduksi hand sanitizer, disinfektan, sabun tangan, sabun cuci piring, hingga kosmetik berbasis turunan sawit.
“Semua produk kami menggunakan bahan aktif alami dari sawit seperti gliserin dan metil ester sulfonat (MES),” ujar Shandyka kepada elaeis.co. “Kami ingin menunjukkan bahwa sawit bukan hanya soal minyak goreng atau biodiesel, tapi juga bahan dasar untuk kehidupan sehari-hari yang lebih sehat dan berkelanjutan.”
Produk hand sanitizer mereka, misalnya, memadukan alkohol dan gliserol sawit untuk membunuh bakteri tanpa membuat kulit kering. Hasil uji laboratorium menunjukkan efektivitasnya terhadap E. coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa. Sementara sabun tangan berbasis MES sawit terasa lembut di kulit namun tetap ampuh mengangkat kotoran. Untuk sabun cuci piring, Ratu Bio menambahkan gliserin sawit dan ekstrak jeruk nipis, menghasilkan kombinasi wangi dan daya bersih yang kuat.
Di sisi kosmetik, perusahaan memanfaatkan gliserin murni dengan kadar kemurnian di atas 99 persen. Gliserin itu berasal dari pemurnian crude glycerol hasil proses pembuatan FAME (Fatty Acid Methyl Ester). “Prosesnya menggunakan teknologi transesterifikasi yang menghasilkan dua produk bernilai tinggi—Refined Glycerol dan FAME—yang bisa digunakan di industri kosmetik, kebersihan, hingga energi terbarukan,” tutur Shandyka.
Selain mengembangkan merek sendiri, PT Ratu Bio juga membuka layanan contract manufacturing bagi perusahaan lain. “Kami bekerja sama dengan sejumlah brand lokal yang ingin memproduksi sabun, disinfektan, atau produk higienitas dengan standar tinggi,” ujar Shandyka. “Kolaborasi ini bagian dari strategi memperluas dampak dan memperkuat ekosistem UKM berbasis sawit.”
Bagi Helmi Muhansyah dari BPDP, Ratu Bio adalah contoh konkret keberhasilan hilirisasi sawit di level UKM. “Mereka membuktikan bahwa sawit bisa hadir dalam bentuk yang bermanfaat dan bernilai tambah tinggi,” katanya. Menurut Helmi, banyak yang belum melihat potensi sawit di luar sektor energi dan pangan. Padahal, peluang di sektor kebersihan dan kosmetik sangat besar, terutama dengan tren green products dan permintaan bahan alami yang meningkat.
BPDP, lembaga yang menyalurkan dan mengelola dana sawit, memang memiliki program khusus untuk mendukung pengembangan UKM sawit. Salah satunya melalui promosi dan pendampingan.
“Awalnya tidak mudah, karena banyak UKM yang belum mengenal standar dan sertifikasi produk. Tapi dengan melibatkan berbagai pihak—pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi profesi, hingga lembaga swasta—kami mulai melihat hasil yang nyata,” ujar Helmi.
Sampai saat ini, BPDP telah menerbitkan katalog berisi 100 produk sawit unggulan dari 22 UKM di berbagai daerah, mulai dari Riau, Aceh, Jambi, hingga Yogyakarta dan Sulawesi Selatan. Produk-produk tersebut meliputi makanan, sabun, lilin aromaterapi, hingga pupuk organik. “Kami ingin menunjukkan bahwa sawit itu bukan hanya soal ekspor CPO, tapi juga bisa menjadi fondasi industri kreatif dan inovatif,” katanya.
Helmi menambahkan, sejak Oktober 2024, BPDP memperluas mandatnya. Lembaga yang sebelumnya bernama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kini juga mengelola dana pengembangan untuk kelapa dan kakao. “Ke depan kami akan membuat katalog berisi 1.000 produk dari tiga komoditas itu—sawit, kelapa, dan kakao,” ujarnya.
Inovasi yang dilakukan PT Ratu Bio tidak hanya soal bisnis, tapi juga tentang tanggung jawab lingkungan. Dengan memanfaatkan turunan sawit seperti gliserin dan MES, perusahaan ikut mendorong praktik produksi yang rendah limbah dan berorientasi sirkular. Bahan-bahan itu berasal dari hasil samping industri biodiesel yang kemudian dimurnikan kembali menjadi bahan higienitas bernilai tinggi.
“Ini adalah bentuk nyata dari ekonomi sirkular di sektor sawit,” kata Shandyka. “Kami ingin produk kami tidak hanya bermanfaat bagi manusia, tapi juga ramah bagi bumi.”
Bagi para jurnalis yang hadir, kunjungan ke pabrik Ratu Bio menjadi bukti bahwa inovasi sawit kini tidak lagi berhenti di hulu. Ia menembus ruang-ruang domestik, hadir di dapur, kamar mandi, dan meja rias masyarakat.
Sore itu, udara pabrik dipenuhi aroma sabun lembut dan cairan disinfektan. Di sela deru mesin pengaduk dan botol yang berbaris rapi di lini pengemasan, tampak semangat muda dari tim Ratu Bio—sebuah potret kecil tentang bagaimana industri sawit Indonesia bisa bertransformasi menjadi kekuatan baru di sektor higienitas dan kecantikan.
Di tangan mereka, sawit tak lagi sekadar bahan mentah. Ia menjelma menjadi simbol inovasi, kemandirian, dan kebanggaan industri lokal. Dari kebun ke botol, dari batang ke wajah, sawit menemukan wujud barunya: bersih, harum, dan bernilai tinggi.











