Langkah Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait -akrab disapa Ara-menyiapkan ribuan hunian tetap bagi korban bencana di Sumatera mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari tokoh masyarakat Batak, MP Tumanggor, yang menilai inisiatif tersebut sebagai wujud nyata kehadiran negara sekaligus solidaritas kemanusiaan lintas sektor.
“Ini bukan sekadar program perumahan, tetapi tindakan kemanusiaan yang konkret. Ketika negara bergerak cepat dan bahkan melibatkan dana non-APBN, itu menunjukkan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat. Perintah Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Perumahan dan Kawasan Kawasan ini patut kita puji. Dan di terjemahkan menjadi langkah konkret di lapangan,” kata MP Tumanggor saat dihubungi, Kamis, 18 Desember 2025.
Maruarar Sirait menyatakan kesiapan pembangunan 2.603 unit hunian tetap bagi korban bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Pernyataan itu disampaikan Ara usai menghadiri rapat tingkat menteri yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno di Jakarta, Rabu, 17 Desember 2025.
“Per hari ini sudah ada kesiapan untuk membangun rumah bagi saudara-saudara kita di Sumatera Barat, di Sumatera Utara, dan Aceh sebesar 2.603 unit,” ujar Ara di kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat.
Pendanaan pembangunan hunian tersebut seluruhnya berasal dari sumber non-APBN. Ara menyebut, Yayasan Buddha Tzu Chi berkontribusi untuk pembangunan 2.500 unit rumah, sementara 103 unit lainnya didanai langsung dari dana pribadinya.
“Uangnya non-APBN. Dari Yayasan Buddha Tzu Chi 2.500 rumah, dari saya pribadi 103,” kata Ara.
MP Tumanggor menilai langkah tersebut mencerminkan semangat gotong royong dan keberanian mengambil keputusan di tengah situasi darurat. Ia menilai pendekatan ini sejalan dengan arahan Presiden agar penanganan bencana tidak terhambat oleh birokrasi yang berbelit.
Ia juga mengapresiasi kunjungan langsung Presiden Prabowo Subianto ke lokasi terdampak bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Menurut dia, kehadiran Presiden di lapangan memberi pesan kuat bahwa pemerintah tidak hanya bekerja dari balik meja.
“Kunjungan ke lapangan, termasuk ke Kabupaten Agam, Sumatera Barat, untuk melihat dan mengunjungi langsung masyarakat terdampak, itu harus kita apresiasi. Kehadiran Presiden memberi semangat dan harapan bagi warga,” ujar MP Tumanggor.
Meski penanganan bencana di sejumlah wilayah Sumatera masih berada pada fase tanggap darurat, Kementerian PKP mulai bersiap memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Ara menegaskan hunian yang dibangun bersifat permanen, bukan hunian sementara.
“Mohon doa dari rakyat Indonesia. Kita mulai bulan ini untuk membangun hunian tetap bagi saudara-saudara kita yang terkena bencana di Sumatera Barat, di Aceh, dan Sumatera Utara,” kata Ara.
Untuk mempercepat realisasi pembangunan, Ara mengusulkan digelarnya rapat lanjutan bersama aparat penegak hukum guna mengantisipasi persoalan hukum, terutama terkait penggunaan lahan untuk hunian tetap.
“Kita berkoordinasi sesuai arahan Presiden. Jangan sampai aturan-aturan justru menghambat negara untuk membantu rakyat,” ujarnya.
MP Tumanggor berharap pola kerja lintas kementerian, keterlibatan filantropi, serta kepemimpinan langsung Presiden dan menteri terkait dapat menjadi model penanganan bencana nasional ke depan.
“Yang dibutuhkan korban bencana adalah kepastian tempat tinggal dan rasa aman. Negara harus hadir, dan hari ini kehadiran itu terlihat,” kata dia.











