Beranda Keuangan Ekonomi Akhir 2025 Bisa Tumbuh 5,5 Persen, Ini Resep Purbaya

Ekonomi Akhir 2025 Bisa Tumbuh 5,5 Persen, Ini Resep Purbaya

0
27
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa/ist

Indonesiafinance.id, Jakarta-Langit Jakarta sore itu mulai berwarna kelabu ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meninggalkan kompleks Istana Negara, Selasa, 30 September 2025. Baru saja ia mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan beberapa menteri ekonomi lain.

Saat sejumlah wartawan mencecar pertanyaan, Purbaya tampak tenang. Dengan nada optimistis ia menyebut perekonomian Indonesia di kuartal IV 2025 berpeluang tumbuh di atas 5,5 persen, lebih tinggi dari capaian kuartal sebelumnya yang sempat menurun karena tekanan global.

Keyakinan itu, kata Purbaya, bersumber dari lonjakan konsumsi masyarakat. Pemerintah telah menggelontorkan Rp 200 triliun ke Bank Indonesia yang kemudian ditempatkan di lima bank milik negara untuk mendorong penurunan bunga kredit. Dengan bunga yang lebih rendah, sektor properti diyakini akan bergerak lebih cepat. “Kalau properti naik, otomatis semen ikut naik, makanan dan minuman juga naik. Aktivitas ekonomi akan bergerak hampir di semua sektor,” ujarnya.

Optimisme itu sejalan dengan geliat yang mulai terasa di lapangan. Beberapa proyek perumahan rakyat di Jakarta, Surabaya, hingga Makassar kembali menunjukkan aktivitas setelah lama tertahan. Para kontraktor melaporkan meningkatnya permintaan semen dan baja, sementara pengembang mulai berani meluncurkan proyek baru. Bagi Purbaya, inilah sinyal bahwa daya beli masyarakat mulai pulih.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menimpali bahwa pertumbuhan di ujung tahun akan diperkuat belanja pemerintah. Menurutnya, pos belanja negara tetap terjaga meski defisit fiskal melebar. Arus investasi asing, katanya, juga masih sesuai rencana. Pemerintah bahkan menyiapkan stimulus tambahan hampir US$ 2 miliar atau sekitar Rp 30 triliun yang akan disalurkan pada kuartal IV.

Dana itu diprioritaskan untuk menjaga daya beli rumah tangga, khususnya menjelang Natal dan Tahun Baru. “Mudah-mudahan masih ada lagi stimulus yang bisa diluncurkan,” ucap Airlangga.

Bagi kalangan pengembang, langkah pemerintah menurunkan bunga kredit merupakan kabar baik. Setelah tiga tahun pasar properti stagnan, bank mulai menerima kenaikan pengajuan kredit perumahan. Asosiasi Pengembang Perumahan menyebut minat kelas menengah membeli rumah kembali menguat, terutama karena cicilan menjadi lebih ringan.

Meski demikian, jalan ekonomi Indonesia 2025 tidak sepenuhnya mulus. Perlambatan global akibat ketegangan geopolitik dan harga energi yang berfluktuasi terus membayangi. Purbaya mengakui tantangan itu, namun ia lebih memilih melihat peluang. Ia menyinggung keterlambatan pembangunan kilang minyak sejak krisis 1998 yang membuat Indonesia kehilangan momentum. Bagi Purbaya, inilah saatnya memacu industrialisasi energi sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Dalam rapat bersama Komisi XI DPR awal September lalu, Purbaya sempat memaparkan arah kebijakan fiskal 2026. Ia menekankan pentingnya belanja produktif, terutama pada infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Baginya, angka pertumbuhan 5,5 persen di akhir 2025 bukan hanya soal statistik. Itu adalah jembatan menuju kepercayaan publik bahwa pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo mampu menjaga stabilitas dan membawa transformasi ekonomi.

Prabowo sendiri, dalam beberapa kesempatan, menegaskan perlunya keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan. Ia meminta tim ekonomi memastikan setiap kebijakan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas. Dalam rapat di Istana, Prabowo berulang kali menekankan agar kebijakan fiskal diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan energi.

Optimisme para pejabat itu mendapat perhatian pasar. Indeks Harga Saham Gabungan dalam sepekan terakhir bergerak positif, sementara nilai tukar rupiah relatif stabil. Para analis menyebut pasar menyambut apa yang mereka sebut “Purbaya Effect” — keyakinan bahwa strategi fiskal yang dipadukan dengan stimulus terukur akan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap kokoh di tengah ketidakpastian global.

Angka 5,5 persen mungkin terdengar sederhana di atas kertas. Tetapi bagi jutaan orang, pertumbuhan berarti peluang kerja baru, konsumsi yang lebih kuat, dan perbaikan kesejahteraan. Purbaya menyadari harapan itu. “Yang penting sekarang, ekonomi harus jalan terus. Karena kalau ekonomi jalan, kepercayaan juga ikut naik,” ujarnya sambil melambaikan tangan kepada wartawan sebelum masuk ke mobil dinasnya.

Di penghujung 2025, Indonesia masih menghadapi badai eksternal yang tidak ringan. Namun di balik itu, keyakinan mulai tumbuh bahwa mesin ekonomi nasional bisa melaju lebih kencang. Sebuah keyakinan yang perlahan menjelma menjadi optimisme kolektif: pertumbuhan bukan hanya mungkin, tapi sedang dalam genggaman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini