Indonesiafinance.id, Jakarta – Hanya ditemani beberapa stafnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tiba-tiba muncul di kantor pusat Bank Mandiri. Tanpa protokol panjang, tanpa jamuan resmi. Sang bendahara negara datang seperti biasa saja: menyapa singkat, duduk di ruang rapat, lalu menegur direksi bank pelat merah itu. Di meja hanya tersedia sepiring gorengan, bukan hidangan mewah.
“Saya cuma disuguhi gorengan,” katanya sambil melempar senyum tipis. Tapi di balik gurauan itu, kritik terselip: direksi Mandiri masih kurang sigap menyalurkan stimulus dari pemerintah.
Purbaya memang sedang menempuh cara baru dalam mengawasi bank-bank BUMN. Ia melakukan inspeksi mendadak, atau sidak, ke perbankan besar. Uang Rp200 triliun milik negara yang ditempatkan di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tak boleh mengendap begitu saja. Dana itu harus bergerak ke sektor riil, menghidupkan mesin ekonomi yang belakangan melambat. “Saya muter-muter secara acak, biar mereka kapok!” ujarnya dengan nada bercanda, tapi serius.
Sebelum mendatangi Mandiri, Purbaya lebih dulu ‘menyapa’ Bank Negara Indonesia (BNI) pada Senin, 29 September lalu. Ia mengecek langsung laporan penyaluran kredit, termasuk saldo rekening valuta asing. Ada dua hal yang ia garis bawahi: pertama, memastikan dana pemerintah yang ditempatkan di bank benar-benar disalurkan sebagai kredit produktif. Kedua, memastikan perbankan tidak menggunakan dana itu untuk membeli atau menimbun dolar AS yang bisa menekan rupiah.
“Saya minta buka rekening bank, dolar kamu berapa sekarang, seminggu lalu berapa, sebulan lalu berapa? Saya cek naik apa tidak,” ungkapnya.
Dalam sidaknya ke Bank Mandiri, Purbaya menemukan hal serupa: dana pemerintah sudah terserap 70 persen, namun bank masih meminta tambahan untuk sektor properti dan otomotif. Kredit pun naik dari 8 persen menjadi 11 persen. Angka ini dianggap positif, tapi Purbaya menekankan agar Mandiri lebih agresif. “Mereka sudah minta nambah lagi, tapi saya lihat masih kurang sigap. Harusnya lebih cepat masuk ke sektor riil,” katanya.
Menurut Purbaya, properti dan otomotif adalah dua sektor strategis yang bisa mendorong konsumsi masyarakat sekaligus menggerakkan banyak industri turunan. Dari semen, baja, hingga makanan-minuman, semua bisa terdorong bila kredit mengalir deras. “Kalau kredit jalan, pertumbuhan ekonomi akan ikut naik. Saya targetkan ekonomi bisa tumbuh 5,5 persen pada akhir tahun,” ujarnya.
Namun, Purbaya juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan. Bank tak boleh sekadar mengejar pertumbuhan kredit, melainkan juga memperhatikan risiko pembiayaan. “Stimulus ini bukan hanya angka, tapi instrumen untuk memperbaiki daya beli rakyat,” tambahnya.
Direksi Mandiri sempat memaparkan capaian dan rencana penyaluran kredit berikutnya. Tapi Purbaya tampak belum sepenuhnya puas. Ia mengingatkan agar dana yang disalurkan bisa segera dirasakan dampaknya oleh masyarakat, khususnya kalangan menengah dan sektor riil yang saat ini masih tertekan.
Sidak ini, menurut Purbaya, akan terus ia lakukan ke bank-bank Himbara lainnya. Tujuannya sederhana: memastikan setiap rupiah uang negara bekerja untuk rakyat, bukan diam di rekening bank. “Saya akan cek bank yang lain juga seperti itu. Saya ingin pastikan mereka tidak mengganggu nilai tukar rupiah, dan benar-benar menyalurkan kredit,” katanya.
Langkah sidak Purbaya ini juga mencerminkan gaya kepemimpinannya yang lugas dan langsung ke lapangan. Ia tidak hanya puas dengan laporan di atas kertas, tapi turun melihat langsung implementasi di bank. “Kalau sudah lihat sendiri, saya tahu mana yang betul-betul kerja, mana yang cuma laporan,” ujarnya.
Bagi Purbaya, sidak-sidak ini hanyalah permulaan. Ia yakin dengan penempatan dana pemerintah di Himbara, kredit bisa tumbuh lebih efisien, dan ekonomi kembali berdenyut lebih cepat. “Kalau ini berjalan, saya yakin ekonomi kita akan tumbuh lebih baik, dan target 5,5 persen pada akhir tahun bisa tercapai,” pungkasnya.












