Beranda Bursa OJK Setuju Naikkan Free Float Saham Jadi 30%, Tapi Akan Dilakukan Bertahap

OJK Setuju Naikkan Free Float Saham Jadi 30%, Tapi Akan Dilakukan Bertahap

0
46
Bursa Efek Indonesia/ist

 Indonesiafinance.id, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons usulan DPR agar porsi saham beredar bebas atau free float di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinaikkan menjadi 30 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menegaskan regulator mendukung gagasan itu, namun pelaksanaannya harus bertahap.

“Bertahap itu ya, bertahap. Kalau ditanya setuju atau tidak, pasti setuju. Tapi implementasinya dilakukan bertahap,” kata Inarno saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (7/10).

Selama ini ketentuan free float di BEI berada di kisaran 7,5–10 persen. DPR mendorong agar batas minimum dinaikkan tiga kali lipat menjadi 30 persen untuk memperkuat likuiditas pasar modal.

Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebut pihaknya saat ini tengah mengkaji kemungkinan penyesuaian regulasi, termasuk ketentuan free float. Menurutnya, setiap kebijakan harus memperhatikan kondisi emiten sekaligus kesiapan investor.

“BEI selalu melihat relevansi pengaturan dengan dinamika pasar modal serta melakukan benchmarking dengan praktik umum di bursa global,” ujarnya, Jumat (26/9).

Nyoman menambahkan, setiap kebijakan baru akan melalui proses dengar pendapat bersama para pemangku kepentingan. Hal ini penting agar perubahan aturan bisa menjaga keseimbangan pasar sekaligus meningkatkan likuiditas. “Konsep penyesuaian akan kami publikasikan dalam waktu dekat untuk mendapatkan masukan dari pemangku kepentingan,” jelasnya.

Selain menaikkan free float, BEI juga berupaya menarik lebih banyak perusahaan besar untuk melantai di bursa. Fokusnya bukan hanya memperluas saham beredar, tetapi juga mendorong IPO skala besar yang otomatis akan menambah nilai kapitalisasi free float.

Untuk itu, BEI membentuk unit kerja khusus yang mendampingi perusahaan, baik swasta maupun BUMN, dalam persiapan IPO. Pendampingan dilakukan lewat coaching clinic, one-on-one meeting, hingga networking event antara perusahaan dengan profesi penunjang pasar modal. Tujuannya, mempermudah perusahaan memahami regulasi dan mempercepat proses menuju go public.

Bursa juga menargetkan lebih banyak hadirnya lighthouse IPO, yakni IPO dengan kapitalisasi pasar di atas Rp3 triliun dan free float minimal 15 persen atau setara Rp700 miliar. Menurut Nyoman, IPO semacam ini bisa menjadi magnet bagi investor institusi, baik domestik maupun asing, karena menawarkan emiten berskala besar dengan reputasi tinggi.

Masuknya perusahaan-perusahaan besar diharapkan mampu menarik aliran dana baru ke pasar modal Indonesia. Pada akhirnya, langkah ini tidak hanya mendukung likuiditas, tetapi juga menciptakan stabilitas jangka panjang bagi pasar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini